dfx.co.id – Fenomena keuangan digital di Indonesia kini tengah menjadi sorotan tajam, terutama setelah munculnya data yang menunjukkan ketimpangan nilai pinjaman antara layanan peer-to-peer lending (P2P) tunai dengan layanan beli sekarang bayar nanti (Buy Now Pay Later).
Banyak masyarakat yang mungkin tidak menyadari betapa masifnya perbedaan nominal kewajiban yang harus dibayarkan. Pertanyaan besarnya adalah, kenapa utang pinjol bisa 9 kali lebih besar dari PayLater padahal keduanya sama-sama produk teknologi finansial yang menawarkan kemudahan?
Isu ini bukan sekadar angka statistik semata, melainkan cerminan dari pola perilaku konsumsi dan kebutuhan masyarakat modern yang semakin kompleks. Ketika seseorang mengajukan pinjaman tunai melalui aplikasi.
Seringkali nominal yang cair jauh melebihi apa yang biasanya dibelanjakan melalui fitur PayLater di e-commerce. Memahami akar masalah dari fenomena ini sangat krusial agar masyarakat tidak terjebak dalam lilitan bunga yang mencekik.
Berikut adalah pembahasan mendalam mengenai faktor-faktor fundamental yang menyebabkan nilai utang pinjaman online (pinjol) tunai bisa melonjak drastis dibandingkan fasilitas PayLater.
Perbedaan Signifikan pada Plafon Pencairan Dana
Salah satu alasan paling mendasar yang menjawab kenapa utang pinjol bisa 9 kali lebih besar dari PayLater terletak pada struktur plafon atau batas maksimal pinjaman yang diberikan oleh penyedia layanan.
Karakteristik Plafon PayLater yang Terbatas
Layanan PayLater pada dasarnya didesain sebagai pengganti kartu kredit untuk transaksi ritel. Sifatnya adalah transaksional konsumtif. Biasanya, limit awal yang diberikan kepada pengguna berkisar antara Rp500.000 hingga Rp2.000.000.
Meskipun limit ini bisa naik seiring dengan riwayat pembayaran yang baik, penggunaannya terbatas pada ekosistem merchant tertentu.
Seseorang hanya akan menggunakan PayLater untuk membeli barang-barang seperti pakaian, makanan, pulsa, atau tiket bioskop. Jarang sekali ada transaksi PayLater tunggal yang mencapai puluhan juta rupiah kecuali untuk pembelian barang elektronik besar.
Itu pun dengan tenor cicilan yang ketat. Oleh karena itu, rata-rata “utang” yang tercatat di PayLater relatif kecil karena berbasis pada harga barang konsumsi harian.
Fleksibilitas Tinggi pada Pinjaman Tunai (Cash Loan)
Berbeda halnya dengan pinjol yang menawarkan cash loan atau pinjaman tunai multiguna. Plafon yang ditawarkan bisa langsung melonjak tinggi, mulai dari Rp5.000.000 hingga Rp20.000.000 bahkan lebih untuk satu kali pencairan, tergantung skor kredit peminjam.
Pinjaman tunai tidak terikat pada pembelian barang. Uang cair langsung ke rekening pribadi dan bisa digunakan untuk apa saja, mulai dari biaya rumah sakit, modal usaha, hingga renovasi rumah. Karena tidak adanya batasan objek transaksi.
Peminjam cenderung mengambil angka maksimal yang ditawarkan aplikasi. Inilah pintu masuk pertama kenapa utang pinjol bisa 9 kali lebih besar dari PayLater, karena nominal pokok pinjamannya saja sudah berbeda jauh sejak awal akad kredit.
Skema Bunga dan Biaya Layanan yang Berbeda
Faktor kedua yang sering luput dari perhatian adalah struktur biaya. Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengatur batasan bunga, implementasi di lapangan antara produk multifinance (PayLater) dan P2P Lending tunai memiliki perbedaan mekanisme yang signifikan.
Akumulasi Bunga Harian pada Pinjol
Banyak platform pinjaman tunai menerapkan sistem bunga harian atau biaya layanan yang cukup tinggi jika dihitung secara persentase tahunan. Selain bunga pokok, terdapat biaya administrasi, biaya provisi, dan biaya asuransi yang seringkali dipotong di awal atau ditambahkan ke dalam pokok utang.
Jika seorang peminjam mengambil dana tunai sebesar Rp10.000.000 dengan tenor singkat namun telat membayar beberapa hari saja, denda keterlambatan dan bunga berjalan akan menggulung nilai utang tersebut dengan sangat cepat.
Efek bola salju (snowball effect) ini membuat nilai total pengembalian membengkak jauh di atas pokok pinjaman awal.
Transparansi Biaya pada PayLater
Di sisi lain, PayLater umumnya memiliki skema biaya yang lebih “flat” atau tetap per bulan. Beberapa penyedia layanan bahkan menawarkan bunga 0% untuk tenor 30 hari dan hanya mengenakan biaya penanganan (admin fee) yang kecil.
Karena sifatnya yang terikat pada harga barang, pengguna PayLater cenderung lebih disiplin membayar karena nominal cicilannya relatif terjangkau (misalnya Rp50.000 per bulan untuk baju seharga Rp150.000).
Hal ini mencegah terjadinya akumulasi denda yang brutal seperti yang sering terjadi pada kasus gagal bayar pinjaman tunai.
Fenomena “Gali Lubang Tutup Lubang”
Analisis perilaku peminjam juga menjadi kunci dalam membedah kenapa utang pinjol bisa 9 kali lebih besar dari PayLater. Pola penggunaan dana tunai seringkali berkaitan dengan manajemen arus kas yang buruk.
Lingkaran Setan Utang Produktif vs Konsumtif
Pinjaman tunai sering digunakan sebagai jalan pintas untuk menutupi kebutuhan mendesak atau bahkan membayar utang di tempat lain. Praktik “gali lubang tutup lubang”—meminjam di aplikasi A untuk membayar utang di aplikasi B—adalah penyebab utama ledakan nilai utang per individu.
Ketika seseorang sudah masuk dalam siklus ini, mereka tidak lagi meminjam Rp1.000.000, melainkan Rp5.000.000 untuk menutup bunga dan pokok utang sebelumnya. Akibatnya, saldo terutang (outstanding) meroket tajam.
Sedangkan pada PayLater, pengguna tidak bisa melakukan “gali lubang” dengan mudah karena dananya tidak bisa dicairkan (non-tunai). Pengguna tidak bisa membayar tagihan PayLater A menggunakan limit PayLater B.
Data Statistik OJK Terkait Outstanding Loan
Berdasarkan data statistik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait Fintech Lending, porsi penyaluran pinjaman ke sektor produktif dan multiguna menunjukkan angka yang masif. Rata-rata ticket size (nilai pinjaman per transaksi) untuk pinjaman tunai memang jauh lebih besar.
Ketika data ini dikompilasi, terlihat jelas bahwa satu akun peminjam cash loan bisa memiliki eksposur risiko puluhan juta rupiah, sementara satu akun PayLater rata-rata.
Hanya memiliki eksposur ratusan ribu hingga satu dua juta rupiah. Ketimpangan rata-rata inilah yang memunculkan statistik mencengangkan tersebut.
Psikologi Peminjam: Kebutuhan vs Keinginan
Aspek psikologis memegang peranan vital dalam keputusan finansial. Cara otak manusia merespons ketersediaan dana tunai sangat berbeda dengan ketersediaan limit belanja.
Ilusi Uang Kaget
Saat melihat limit pinjaman tunai sebesar Rp10.000.000 di layar ponsel, banyak orang menganggapnya sebagai “uang tambahan” atau extra cash yang siap pakai.
Ada dorongan psikologis untuk mencairkan dana tersebut meskipun kebutuhan riil saat itu mungkin hanya Rp3.000.000. Pikirannya seringkali, “Sekalian saja cairkan semua untuk jaga-jaga.”
Pola pikir ini sangat berbahaya dan menjadi jawaban valid kenapa utang pinjol bisa 9 kali lebih besar dari PayLater. Kelebihan dana yang dicairkan seringkali habis untuk hal-hal yang tidak esensial, namun kewajiban pembayarannya tetap berjalan dengan bunga penuh.
Kontrol Diri pada Transaksi PayLater
Sebaliknya, saat menggunakan PayLater, pengguna harus melalui proses checkout barang. Ada jeda waktu untuk berpikir, “Apakah saya benar-benar butuh sepatu ini?”.
Proses ini memberikan filter alami yang menahan seseorang untuk tidak berutang secara membabi buta. Transaksi hanya terjadi jika ada barang yang diinginkan, sehingga nilai utangnya terkontrol sesuai harga barang tersebut.
Risiko Regulasi dan Penagihan
Meskipun industri fintech diawasi ketat, masih banyak celah yang dimanfaatkan oleh oknum atau platform ilegal yang berkedok legal, yang turut menyumbang tingginya angka utang masyarakat.
Jeratan Platform Ilegal
Masih maraknya pinjol ilegal yang menawarkan dana tunai dengan syarat mudah namun bunga mencekik menjadi faktor eksternal yang memperburuk statistik. Korban pinjol ilegal seringkali mendapati utang mereka berlipat ganda dalam hitungan minggu.
Ini mendongkrak rata-rata nilai utang pinjaman tunai secara umum di mata masyarakat. PayLater, yang mayoritas bekerja sama dengan e-commerce raksasa (Unicorn/Decacorn).
Umumnya hanya bermitra dengan lembaga pembiayaan yang legal, terdaftar, dan diawasi ketat, sehingga risiko pembengkakan utang tak wajar lebih minim.
Dampak Pada Skor Kredit (SLIK OJK)
Kegagalan membayar pinjaman tunai yang bernilai besar akan berdampak lebih fatal pada catatan keuangan (SLIK OJK) dibandingkan tunggakan kecil di PayLater. Namun ironisnya, karena merasa sudah terlanjur basah dengan utang besar di pinjol tunai.
Banyak debitur yang akhirnya pasrah dan membiarkan bunga serta denda terus berjalan tanpa batas, membuat selisih angka utang dengan PayLater semakin menganga lebar.
Kesimpulan
Memahami dinamika kenapa utang pinjol bisa 9 kali lebih besar dari PayLater membuka mata kita bahwa kemudahan akses dana tunai memiliki risiko ganda dibandingkan fitur beli sekarang bayar nanti. Perbedaan mendasar terletak pada tiga pilar utama.
Plafon pencairan yang jauh lebih tinggi pada pinjaman tunai, skema bunga dan denda harian yang agresif, serta perilaku “gali lubang tutup lubang” yang kerap dilakukan peminjam dana tunai.
Sementara PayLater dibatasi oleh harga barang dan kebutuhan konsumtif ritel, pinjol tunai bermain di ranah kebutuhan dana cair yang seringkali tanpa batas jelas dalam penggunaannya.
Ketidakdisiplinan dalam mengelola dana segar inilah yang membuat satu akun pinjol bisa memiliki beban kewajiban setara dengan sembilan atau sepuluh akun PayLater sekaligus.
Literasi keuangan menjadi satu-satunya perisai. Bijaklah dalam membedakan antara kebutuhan mendesak yang membutuhkan dana tunai dengan keinginan belanja sesaat. Jangan sampai kemudahan teknologi justru menjadi perangkap finansial yang merugikan masa depan.