Arus Peti Kemas TPK Semarang Didominasi Ekspor Impor, Tumbuh 5,53 Persen
Foto: Dok. Antara Foto
PT Pelindo Terminal Petikemas melaporkan bahwa arus peti kemas di Terminal Peti Kemas (TPK) Semarang, Jawa Tengah, kini mayoritas didominasi oleh aktivitas ekspor dan impor.
Kegiatan perdagangan internasional ini menjadi pendorong utama pertumbuhan arus peti kemas di terminal tersebut.
Terminal Head TPK Semarang, I Nyoman Sutrisna, mengungkapkan bahwa hingga Agustus 2026, arus peti kemas mencapai 698. 500 TEUs.
Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 661. 872 TEUs.
Arus peti kemas di TPK Semarang hingga Agustus 2026 mencapai 698. 500 TEUs, tumbuh 5,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 661.
872 TEUs,” jelas Sutrisna di Semarang, Kamis (10/9/2026).
Pertumbuhan signifikan ini, menurut Sutrisna, terutama didukung oleh peningkatan arus peti kemas internasional yang mencapai 625. 390 TEUs.
Angka tersebut mengalami kenaikan 8,53 persen secara tahunan, dibandingkan 576. 246 TEUs pada Agustus 2025.
Secara rinci, komponen impor mencapai 309. 128 TEUs, naik 8,14 persen dari 285.
862 TEUs.
Sementara itu, ekspor tercatat 316. 159 TEUs, meningkat 8,88 persen dari 290.
380 TEUs.
Berbanding terbalik, arus peti kemas domestik atau dalam negeri justru mengalami penurunan, hanya mencapai 73. 011 TEUs.
Jumlah ini lebih rendah dari 85. 625,5 TEUs pada periode yang sama tahun lalu.
Arus internasional menjadi pendorong utama pertumbuhan TPK Semarang,” tegas Sutrisna.
Pernyataan ini disampaikan di sela acara Focus Group Discussion (FGD) Kajian Proyeksi Pertumbuhan Barang dan Industri untuk Peningkatan Kapasitas TPK Semarang dalam Mendukung Pengembangan Logistik dan Perdagangan.
Ketua Indonesia National Shipowners Association (INSA) Semarang, Hari Ratmoko, menyambut baik perkembangan ini.
Ia menilai Pelabuhan Tanjung Mas telah “naik kelas” dalam hal muatan ekspor maupun impor.
Jadi, sudah hampir sejajar dengan Jakarta dan Surabaya, DKI Jakarta dan Jawa Timur. Sudah waktunya.
Jangan ragu lagi harus gerak cepat supaya cepat berkembang, tumbuh, sehingga semua potensi ekonomi bisa kita 'capture',” ujar Ratmoko.
Senada, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jawa Tengah dan DIY, Teguh Arif Handoko, mengakui pesatnya pertumbuhan investasi dan industri di Jawa Tengah.
Ia menegaskan bahwa Pelabuhan Tanjung Mas merupakan pintu utama bagi barang ekspor-impor maupun domestik antarnegara.
Namun, Teguh menyoroti pentingnya peningkatan infrastruktur logistik untuk memenuhi kebutuhan pengiriman barang yang terus meningkat.
Ngapain sekarang pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggenjot investasi yang luar biasa tapi infrastruktur logistiknya enggak terpenuhi? Malah nanti akhirnya lari ke timur, lari ke barat.
Ya kita kan sendiri yang rugi,” pungkasnya.