Teknologi 28 Sep 2026, 02:34 WIB • 1 Dilihat

Perhutani & Pesanggem Pasang Acir di Kedungjati

Dapatkan Berita Terkini

Ikuti kami di Google News untuk update tercepat

Ikuti
Perhutani & Pesanggem Pasang Acir di Kedungjati

Foto: Dokumentasi / Liputan Khusus Redaksi

Menyambut musim tanam kehutanan tahun 2024/2025, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Semarang bersama puluhan petani hutan atau pesanggem menggelar aksi pemasangan acir di wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kedungjati Barat, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Kegiatan teknis lapangan ini dilaksanakan secara serentak mulai pukul 07.30 WIB di petak rancangan tanaman seluas 42,5 hektare dengan melibatkan sedikitnya 65 anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Pemasangan acir atau patok bambu penanda titik tanam tersebut dilakukan guna memastikan tata letak barisan bibit pohon jati (Tectona grandis) dan tanaman sela tertata presisi sesuai standar teknis silvikultur.

Standardisasi Jarak Tanam Berbasis Pemetaan Presisi

Pemasangan acir merupakan fondasi utama sebelum proses penggalian lubang tanam dan distribusi bibit dilakukan ke areal petak tebangan.

Pada musim tanam kali ini, Perhutani menerapkan jarak tanam standar 3 x 2 meter untuk tanaman pokok kayu, serta lorong selebar 3 meter untuk alokasi budidaya tanaman pertanian semusim milik pesanggem.

Setiap titik acir dipancangkan menggunakan tali rentang berskala ukur metrik dan dikalibrasi dengan patok batas kompartemen berbasis koordinat Global Positioning System (GPS).

"Pemasangan acir bukan sekadar menancapkan bilah bambu ke tanah, melainkan implementasi tata ruang mikro tegakan agar tanaman pokok kehutanan mendapatkan intensitas radiasi matahari dan sirkulasi hara yang optimal tanpa mengorbankan ruang tumbuh tanaman pangan pesanggem," ujar Asisten Perhutani (Asper)/Kepala BKPH Kedungjati Barat, Bambang Sudarmanto.

Bambang menjelaskan bahwa dengan tata kelola jarak tanam yang presisi, populasi tanaman pokok dapat terjaga tepat di angka 1.660 pohon per hektare.

Pemberdayaan Pesanggem Melalui Skema Agroforestri Terintegrasi

Keterlibatan aktif kelompok pesanggem menjadi pilar penting dalam mewujudkan keberhasilan reboisasi berbasis teknologi agroforestri berkelanjutan.

Melalui skema Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), pesanggem diberikan hak pemanfaatan lorong tanam untuk menanam komoditas jagung hibrida dan kedelai selama masa awal pertumbuhan vegetatif pohon utama.

Sinergi ini memastikan pesanggem memiliki andil langsung dalam menjaga patok acir agar tidak bergeser selama proses pengolahan tanah awal.

"Kami bersama seluruh anggota kelompok merasa sangat terbantu dengan kejelasan batas ajir yang telah dipasang bersama petugas. Jalur tanaman kayu dan jalur tanaman jagung kami menjadi sangat rapi sehingga memudahkan kami saat pemupukan dan penyiangan gulma," tutur Suparman, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Rimba Makmur Kedungjati.

Suparman menambahkan bahwa dengan pemasangan acir yang rapi, risiko kerusakan bibit pohon akibat lalu lalang petani saat panen jagung dapat ditekan hingga di bawah 3 persen.

Integrasi Data Geospasial dan Digitalisasi Monitoring Lapangan

Selain pengukuran manual di lapangan, Perhutani BKPH Kedungjati Barat memanfaatkan integrasi data Sistem Informasi Spasial (SIG) untuk memetakan kontur kemiringan lereng di kawasan tersebut.

Langkah digitalisasi ini memungkinkan petugas kehutanan menentukan arah larikan acir yang memotong garis kontur lereng bukit guna meminimalkan potensi erosi permukaan tanah saat curah hujan tinggi tiba.

Petugas lapangan juga mencatat setiap nomor petak dan koordinat pancang acir ke dalam aplikasi digital internal Perhutani untuk memonitor progres pembuatan lubang tanam secara berjenjang.

"Digitalisasi pemetaan acir ini memastikan bahwa seluruh tahapan pra-tanam hingga penanaman massal tercatat dalam basis data spasial kehutanan, sehingga akurasi evaluasi persentase tumbuh tanaman di tahun pertama bisa dipantau secara transparan," tegas Kepala Seksi Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Perhutani KPH Semarang, Wahyu Nugroho.

Wahyu menyebutkan bahwa langkah integrasi teknologi spasial dan keterlibatan sosial pesanggem menjadi kunci pencapaian target persen jadi tanaman nasional di atas target 95 persen.

Kesiapan Lubang Tanam Menjelang Droping Bibit Unggul

Setelah tahap pemasangan acir rampung dalam kurun waktu lima hari kerja, tahapan akan langsung dilanjutkan dengan pembuatan lubang tanam berdimensi 30 x 30 x 30 sentimeter pada setiap titik pancang.

Perhutani telah menyiapkan 70.550 bibit jati unggul klon (JUK) dan tanaman pengisi seperti kesambi serta kayu putih dari persemaian terpusat yang siap didistribusikan saat indeks kelembapan tanah mencapai ambang aman tanam.

Kolaborasi harmonis antara teknologi pengukuran silvikultur dan kearifan lokal pesanggem di Kedungjati Barat ini diharapkan mampu merevitalisasi tutupan hutan sekaligus mendongkrak ketahanan ekonomi masyarakat tepi hutan.

Kaspin

Jurnalis profesional dengan fokus liputan berita aktual, investigasi mendalam, dan fakta terverifikasi di Indonesia.

Kembali ke Beranda