Pendidikan
10 Sep 2026, 04:26 WIB
•
7 Dilihat
Transformasi Pembelajaran Digital: Tim Ekspedisi Patriot ITB Dampingi Guru di Pedalaman Jayapura
Foto: Dokumentasi / Liputan Khusus Redaksi
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini memberikan pendampingan intensif kepada 39 guru sekolah dasar (SD) di Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Papua. Inisiatif ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) sebagai perangkat pembelajaran, khususnya dalam menghadapi keterbatasan akses jaringan internet di wilayah tersebut.
Maria, seorang guru dari SD Inpres SP 6 Yapsi, mengungkapkan manfaat besar dari program ini. "Pendampingan ini sangat bermanfaat karena membantu kami yang awalnya belum mengetahui cara penggunaan PID menjadi lebih memahami pengoperasiannya," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis. Ia juga menekankan bahwa keterbatasan internet tidak seharusnya menghalangi para pendidik untuk menggunakan perangkat digital guna menciptakan kegiatan belajar yang lebih menarik bagi siswa.
Program peningkatan kapasitas ini menargetkan 15 sekolah di Distrik Yapsi. Hingga kini, sebanyak 39 guru dari lima sekolah, yaitu SD Negeri Bundru, SD Inpres SP 3, SD Inpres SP 4, SD Inpres SP 2, dan SD Inpres SP 6, telah berhasil mengikuti sesi pendampingan dan mempraktikkan penggunaan PID. Materi yang disampaikan mencakup pengoperasian dasar PID, pemanfaatan fitur anotasi pada layar, serta pembuatan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI), termasuk integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam media pembelajaran.
Hilarius Donatus Hun, anggota Tim 10 TEP ITB, menyoroti komitmen tim dalam menjangkau sekolah-sekolah sasaran meskipun harus menghadapi tantangan jarak tempuh dan kondisi jalan berbatu di wilayah pedalaman Yapsi. Selain pendampingan guru, TEP juga merencanakan penyerahan 15 unit laptop kepada 15 sekolah target untuk mendukung kegiatan pembelajaran berbasis teknologi. Tim juga menjadwalkan lokakarya bertema "Pembelajaran Mendalam" bersama akademisi Universitas Cenderawasih pada 19 September 2026 sebagai kelanjutan dari program peningkatan kapasitas guru.
Kementerian Transmigrasi menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan pemerintah terhadap pemerataan pemanfaatan teknologi pendidikan, khususnya di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses digital. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menekankan pentingnya penggunaan panel interaktif sebagai salah satu upaya untuk memperluas akses siswa di seluruh Indonesia terhadap materi pembelajaran dan meningkatkan kualitas proses belajar melalui teknologi digital.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Juli 2026, program digitalisasi pembelajaran pada tahun 2025 telah menjangkau 288.865 satuan pendidikan dengan PID dan perangkat pendukung. Sebanyak 8.265 satuan pendidikan juga telah memperoleh akses internet, dan 2.389 satuan pendidikan mendapatkan dukungan listrik. Pada periode yang sama, 33.156 guru dan tenaga kependidikan telah mengikuti pelatihan pemanfaatan pembelajaran digital.
Khusus di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), program tersebut telah menjangkau 13.838 sekolah, termasuk dukungan internet bagi 4.316 sekolah dan listrik bagi 49 sekolah. Pemerintah juga telah menyalurkan 30.285 unit laptop dan perangkat penyimpanan eksternal untuk mendukung pembelajaran digital di wilayah 3T. Pada tahun 2026, pemerintah berencana melanjutkan pengadaan PID sekaligus memperkuat pendampingan, konektivitas, pasokan listrik, dan kesiapan sumber daya manusia agar pemanfaatan perangkat semakin optimal.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya menyampaikan harapannya agar peserta TEP tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga mampu membantu menyelesaikan persoalan nyata yang ditemui masyarakat. "Indonesia membutuhkan lebih banyak anak muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu memecahkan persoalan nyata di tengah masyarakat. Patriot muda harus jadi problem solver," tegas Iftitah.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menilai bahwa temuan empiris TEP di lapangan dapat menjadi masukan penting untuk mempertemukan kajian akademis dengan kebijakan strategis pemerintah. Hal ini diharapkan dapat membuat intervensi pembangunan menjadi lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. TEP 2026 melibatkan 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim untuk bertugas di 53 kawasan transmigrasi, dengan 10 kawasan penugasan berada di Papua, melibatkan sekitar 1.200 peserta dalam kurang lebih 200 tim yang ditempatkan di wilayah Papua.
Tag Topik Terkait: