Ekonomi 28 Sep 2026, 14:43 WIB • 4 Dilihat

Gibran Desak Evaluasi Total Usai Keracunan MBG di Batang

Dapatkan Berita Terkini

Ikuti kami di Google News untuk update tercepat

Ikuti
Gibran Desak Evaluasi Total Usai Keracunan MBG di Batang

Foto: Dokumentasi / Liputan Khusus Redaksi

Sebuah kasus keracunan massal yang menggemparkan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, telah menarik perhatian nasional, mendorong Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka untuk menyerukan evaluasi menyeluruh dan pengawasan keamanan pangan yang lebih ketat.

Insiden yang diduga kuat berasal dari kontaminasi makanan ini, menimpa puluhan peserta sebuah acara dan menyoroti urgensi pembenahan sistem keamanan pangan di Indonesia.

Gibran menekankan bahwa kejadian ini bukan hanya insiden lokal, melainkan cerminan dari potensi kerentanan dalam rantai pasok dan penyajian makanan di berbagai kegiatan publik.

Kronologi dan Dampak Keracunan Massal di Batang

Peristiwa tragis ini bermula pada Minggu malam, 17 Maret 2024, ketika puluhan warga yang menghadiri acara di salah satu desa di Batang mulai merasakan gejala aneh setelah menyantap hidangan.

Makanan yang disajikan dalam acara tersebut, sebuah menu katering, diduga menjadi pemicu utama keracunan massal.

Beberapa jam setelah konsumsi, para korban secara bergelombang mulai mengeluhkan mual, muntah hebat, diare akut, pusing, hingga demam tinggi.

Situasi darurat pun terjadi, memaksa warga dan keluarga segera melarikan para korban ke fasilitas kesehatan terdekat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Batang mencatat, hingga Senin pagi, 18 Maret 2024, setidaknya 78 orang telah didata sebagai korban keracunan.

Dari jumlah tersebut, 45 orang di antaranya memerlukan penanganan medis intensif dan harus dirawat inap di beberapa lokasi, termasuk RSUD Kalisari Batang, Puskesmas Batang I, dan Puskesmas Tulis.

Sejumlah korban lainnya mendapatkan penanganan rawat jalan dan observasi di rumah masing-masing dengan pemantauan ketat dari petugas kesehatan.

Tim investigasi gabungan dari Dinkes Batang dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang segera turun tangan.

Mereka mengambil sampel sisa makanan, air minum, serta spesimen muntahan dan feses dari para korban untuk dilakukan uji laboratorium.

Langkah ini krusial untuk mengidentifikasi bakteri, virus, atau zat kimia penyebab keracunan, serta sumber kontaminasinya.

"Kami langsung bergerak cepat begitu laporan masuk. Seluruh sumber daya medis dikerahkan untuk penanganan korban. Prioritas kami adalah menyelamatkan nyawa dan memastikan kondisi pasien stabil," terang dr. Arif Rahman, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, pada konferensi pers Senin, 18 Maret 2024.

Ia menambahkan, hasil uji laboratorium diperkirakan akan keluar dalam beberapa hari ke depan untuk memberikan kepastian ilmiah mengenai penyebab insiden ini.

Gibran Desak Evaluasi Total Pengawasan Pangan

Merespons insiden yang berulang ini, Gibran Rakabuming Raka, yang akan segera menjabat sebagai Wakil Presiden, menyampaikan keprihatinan mendalamnya.

Ia mendesak seluruh elemen pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk tidak lagi menunda evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dan pengawasan pangan.

Gibran menyoroti bahwa kasus di Batang ini adalah salah satu dari sekian banyak kejadian serupa yang kerap terjadi di berbagai daerah.

Menurutnya, hal ini mengindikasikan adanya kelemahan fundamental dalam implementasi standar kebersihan dan sanitasi pangan.

"Kasus keracunan makanan bukan hanya soal insiden, tapi ini menyangkut nyawa dan kesehatan masyarakat. Saya minta evaluasi total sistem pengawasan pangan, dari proses produksi, distribusi, hingga penyajian. Jangan sampai ada lagi warga yang jadi korban karena kelalaian kita," tegas Gibran saat ditemui di sela agenda kerjanya di Jakarta, Selasa, 19 Maret 2024.

Gibran secara spesifik meminta agar BPOM, Kementerian Kesehatan, dan dinas terkait di daerah memperkuat koordinasi.

Ia menyarankan peningkatan frekuensi inspeksi mendadak, terutama pada penyedia katering dan pedagang makanan yang melayani acara-acara besar.

Selain itu, Gibran juga menekankan pentingnya pembinaan dan sertifikasi bagi pelaku usaha makanan mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mereka memahami standar keamanan pangan.

Langkah Konkret dan Sanksi Tegas Menanti

Pemerintah Kabupaten Batang, melalui Bupati Lani Dwi Rejeki, menyatakan siap menindaklanjuti arahan Gibran dengan langkah-langkah konkret.

Bupati Lani menegaskan komitmen Pemkab Batang untuk memperketat regulasi dan memberikan sanksi tegas bagi pihak-pihak yang terbukti lalai dalam menjaga keamanan pangan.

Pihaknya akan segera menerbitkan surat edaran resmi yang mewajibkan semua penyelenggara acara dan penyedia jasa boga untuk mematuhi standar sanitasi dan higienitas yang telah ditetapkan.

Kerja sama dengan BPOM dan aparat penegak hukum juga akan ditingkatkan untuk memastikan kepatuhan dan menindak tegas pelanggaran yang membahayakan kesehatan publik.

Dari level nasional, Kementerian Kesehatan juga menunjukkan respons cepat terhadap desakan ini.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Dr. Maxi Rein Rondonuwu, menyatakan kesiapan Kemenkes untuk mendukung penuh investigasi dan upaya pencegahan.

"Kami akan memberikan asistensi teknis, dukungan laboratorium, dan memperkuat kapasitas surveilans epidemiologi di daerah. Data dari Batang ini akan menjadi pembelajaran penting untuk penyusunan kebijakan pencegahan ke depan," ujar Dr. Maxi dalam keterangan persnya pada Rabu, 20 Maret 2024.

Kemenkes juga berencana mengintensifkan kampanye edukasi kepada masyarakat luas mengenai pentingnya memilih dan mengolah makanan yang aman.

Pentingnya sertifikasi laik hygiene bagi restoran dan katering, serta sertifikasi BPOM bagi produk makanan kemasan, juga menjadi fokus utama yang akan didorong.

Membangun Ketahanan Pangan Melalui Edukasi dan Partisipasi

Lebih dari sekadar penindakan, insiden keracunan di Batang ini juga menjadi momentum untuk memperkuat edukasi dan partisipasi aktif masyarakat.

Masyarakat sebagai konsumen memiliki peran vital dalam memutus rantai keracunan makanan.

Edukasi mengenai prinsip-prinsip dasar keamanan pangan, seperti mencuci tangan sebelum makan, memastikan makanan dimasak sempurna, dan menyimpan makanan pada suhu yang tepat, perlu terus digalakkan.

Kampanye "Baca Label Sebelum Beli" juga penting untuk meningkatkan kesadaran akan tanggal kedaluwarsa, komposisi, dan izin edar produk.

Kerja sama multipihak antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil sangat dibutuhkan.

Tujuannya adalah untuk menciptakan ekosistem pangan yang tidak hanya berlimpah, tetapi juga aman, bergizi, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Insiden di Batang adalah pengingat keras bahwa keamanan pangan adalah hak dasar setiap warga negara dan tanggung jawab kolektif yang tak bisa ditawar.

Dengan evaluasi menyeluruh, pengawasan ketat, dan edukasi berkelanjutan, diharapkan kasus serupa dapat diminimalisir di masa mendatang.

Subarjo

Jurnalis profesional dengan fokus liputan berita aktual, investigasi mendalam, dan fakta terverifikasi di Indonesia.

Kembali ke Beranda