Ekonomi 28 Sep 2026, 16:13 WIB • 2 Dilihat

Saham GOTO & DADA Anjlok Pasca Penghapusan Batas Gocap BEI

Dapatkan Berita Terkini

Ikuti kami di Google News untuk update tercepat

Ikuti
Saham GOTO & DADA Anjlok Pasca Penghapusan Batas Gocap BEI

Foto: Dokumentasi / Liputan Khusus Redaksi

Jakarta, Senin (4/12/2023) – Pasar modal Indonesia dihebohkan oleh anjloknya harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Digital Akses Data Tbk (DADA) pada perdagangan awal pekan ini.

Penurunan signifikan ini terjadi pasca implementasi kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menghapus batas harga saham terendah Rp50 atau 'saham gocap'.

Sontak, keputusan ini memicu gelombang kekhawatiran di kalangan investor, terutama bagi pemegang saham-saham yang sebelumnya terperangkap di harga Rp50.

Volume transaksi GOTO dan DADA melonjak drastis, namun diiringi dengan tekanan jual yang masif, menyeret harga kedua emiten ini ke level terendah baru.

Kebijakan penghapusan batas gocap ini mulai berlaku efektif pada hari ini, Senin, 4 Desember 2023, mengubah lanskap perdagangan saham di BEI secara fundamental.

Investor kini dihadapkan pada realitas baru di mana harga saham dapat bergerak di bawah level psikologis Rp50, membuka potensi kerugian yang lebih dalam.

Penghapusan Batas Gocap: Era Baru Volatilitas Pasar

BEI secara resmi menghapus batasan harga minimum Rp50 per saham sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan likuiditas pasar.

Aturan yang tertuang dalam Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00068/BEI/12-2023 ini diharapkan dapat memberikan fleksibilitas lebih bagi mekanisme pasar.

Sebelumnya, saham yang mencapai harga Rp50 akan sulit bergerak turun lebih jauh, seringkali menyebabkan saham tersebut menjadi 'mati suri' dan tidak likuid.

Namun, dengan penghapusan batas ini, saham-saham tersebut kini memiliki ruang untuk bergerak bebas, baik naik maupun turun, sesuai dengan dinamika penawaran dan permintaan.

Regulasi baru ini merupakan bagian dari revisi Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas.

Tujuannya adalah untuk mendorong harga saham mencapai nilai wajarnya dan mengurangi penumpukan saham di level gocap yang tidak merefleksikan fundamental perusahaan.

Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Pak Irfan Noor Riza, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (4/12/2023), menjelaskan tujuan kebijakan ini.

"Penghapusan batas gocap ini adalah langkah progresif BEI untuk menjadikan pasar lebih efisien dan transparan. Kami ingin harga saham benar-benar mencerminkan nilai intrinsik perusahaan, tanpa terdistorsi oleh batasan harga minimum," ujar Irfan Noor Riza.

Ia menambahkan bahwa BEI telah melakukan kajian mendalam sebelum menerapkan kebijakan ini.

Menurut Irfan, langkah ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas perdagangan dan menarik lebih banyak investor institusi.

Kronologi Anjloknya Saham GOTO dan DADA

Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, saham GOTO langsung menunjukkan tren penurunan tajam.

Pada pukul 09:30 WIB, saham GOTO tercatat anjlok sebesar 6,25% ke level Rp45 per saham dari harga penutupan sebelumnya di Rp48.

Penurunan ini berlanjut hingga sesi pertama berakhir, di mana GOTO ditutup pada level Rp44 per saham, atau terkoreksi 8,33%.

Kapitalisasi pasar GOTO pun tergerus signifikan, mencapai sekitar Rp52,14 triliun pada penutupan sesi pertama.

Sementara itu, saham DADA mengalami nasib serupa, bahkan dengan persentase penurunan yang lebih drastis.

Pada pembukaan pasar, saham DADA langsung anjlok 10% ke level Rp45 per saham dari harga penutupan Rp50.

Tekanan jual yang sangat kuat membuat saham DADA sempat menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) di level Rp40 per saham pada pukul 10:15 WIB.

Pada penutupan sesi pertama, DADA berada di level Rp41 per saham, anjlok 18% dan menghilangkan miliaran rupiah dari nilai pasarnya.

Volume transaksi kedua saham ini tercatat sangat tinggi, menunjukkan aksi jual massal yang dilakukan oleh investor yang panik.

Total nilai transaksi GOTO mencapai Rp560 miliar, sementara DADA mencatatkan transaksi sebesar Rp120 miliar hingga sesi pertama berakhir.

Reaksi Pasar dan Kekhawatiran Investor

Keputusan BEI ini menuai beragam reaksi dari pelaku pasar.

Meskipun sebagian pihak melihatnya sebagai langkah positif untuk jangka panjang, banyak investor ritel yang khawatir akan potensi kerugian besar.

Seorang analis pasar modal dari PT Securitas Jaya, Ibu Dian Paramita, menyampaikan pandangannya terkait fenomena ini.

"Penghapusan batas gocap memang berpotensi memicu volatilitas ekstrem pada saham-saham yang sebelumnya stuck di Rp50. Investor harus lebih berhati-hati dan melakukan analisis fundamental yang kuat," kata Dian Paramita saat dihubungi detikFinance.

Dian menambahkan bahwa saham-saham dengan fundamental lemah akan sangat rentan terhadap koreksi tajam.

Menurutnya, ini adalah ujian bagi investor untuk membedakan antara saham berkualitas dan saham spekulatif.

Asosiasi Investor Ritel Indonesia (AIRI) juga menyuarakan keprihatinan mereka.

Ketua AIRI, Bapak Budi Santoso, meminta BEI untuk terus memantau dampak kebijakan ini terhadap investor kecil.

"Kami mengapresiasi upaya BEI untuk memajukan pasar. Namun, kami juga berharap ada langkah mitigasi dan edukasi yang masif agar investor ritel tidak menjadi korban dari kebijakan ini," ujar Budi Santoso.

Ia menekankan pentingnya transparansi informasi dan akses yang mudah bagi investor untuk memahami risiko yang ada.

Implikasi Jangka Panjang dan Prospek Pasar

Penghapusan batas gocap ini diprediksi akan memiliki implikasi jangka panjang yang signifikan bagi pasar modal Indonesia.

Di satu sisi, ini dapat meningkatkan efisiensi pasar dan mendorong harga saham menuju nilai wajarnya.

Di sisi lain, kebijakan ini juga meningkatkan risiko bagi investor, terutama mereka yang tidak memiliki pemahaman mendalam tentang fundamental perusahaan.

BEI berharap kebijakan ini akan menarik lebih banyak investor institusi yang mencari pasar yang lebih likuid dan efisien.

Namun, dalam jangka pendek, volatilitas yang tinggi mungkin akan menjadi ciri khas pasar.

Emiten-emiten yang sebelumnya berada di level gocap kini memiliki kesempatan untuk 'bernapas' dan menunjukkan kinerja sebenarnya.

Jika fundamental perusahaan kuat, harga saham berpotensi untuk naik dari level terendahnya.

Sebaliknya, emiten dengan kinerja buruk mungkin akan terus tertekan, bahkan berpotensi delisting jika tidak mampu memperbaiki performa.

Para ahli menyarankan investor untuk fokus pada analisis fundamental dan tidak terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan sentimen pasar sesaat.

Edukasi dan riset yang mendalam menjadi kunci untuk bertahan dan meraih keuntungan di era baru pasar modal yang lebih dinamis ini.

BEI akan terus memantau perkembangan pasar dan siap melakukan penyesuaian jika diperlukan.

Ini adalah babak baru bagi pasar modal Indonesia, di mana transparansi dan efisiensi menjadi prioritas utama, namun dengan risiko yang lebih besar bagi investor yang kurang cermat.

Subarjo

Jurnalis profesional dengan fokus liputan berita aktual, investigasi mendalam, dan fakta terverifikasi di Indonesia.

Tag Topik Terkait:
Kembali ke Beranda