Dunia 28 Sep 2026, 01:13 WIB • 2 Dilihat

Menlu Sugiono Pukau PBB dengan Salam Lintas Agama, Dunia Beri Apresiasi

Dapatkan Berita Terkini

Ikuti kami di Google News untuk update tercepat

Ikuti
Menlu Sugiono Pukau PBB dengan Salam Lintas Agama, Dunia Beri Apresiasi

Foto: Dokumentasi / Liputan Khusus Redaksi

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono berhasil mencuri perhatian dunia. Ia menyampaikan pidato yang sarat pesan toleransi lintas agama pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-78.

Peristiwa bersejarah itu berlangsung di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, pada Selasa, 24 September 2024, pukul 10.30 waktu setempat atau Rabu dini hari, 25 September 2024, pukul 21.30 WIB.

Pidatonya yang mengedepankan persatuan dalam keberagaman disambut tepuk tangan meriah dari para delegasi negara anggota.

Aksi Menlu Sugiono ini menjadi sorotan utama, menunjukkan kepemimpinan moral Indonesia di kancah internasional.

Ia memulai pidatonya dengan sapaan dari berbagai keyakinan, sebuah gestur yang jarang terjadi di forum diplomatik tertinggi dunia.

Pidato Bersejarah di Markas PBB

Sidang Umum PBB ke-78 tahun ini diwarnai berbagai tantangan global. Konflik geopolitik, krisis iklim, hingga ketegangan antaragama menjadi isu krusial yang mendominasi agenda.

Di tengah suasana tersebut, Menlu Sugiono memilih untuk tidak hanya membahas isu-isu politik konvensional.

Ia justru mengawali pidatonya dengan menyampaikan salam dari enam agama resmi di Indonesia, ditambah dengan sapaan untuk penganut kepercayaan lokal.

Gestur ini, 'Assalamualaikum', 'Shalom', 'Om Swastiastu', 'Namo Buddhaya', 'Salam Kebajikan', dan 'Salam Sejahtera bagi kita semua', langsung menciptakan keheningan yang kemudian diikuti dengan decak kagum.

Para delegasi yang hadir dari 193 negara anggota PBB tampak terpukau dengan pendekatan yang inklusif dan otentik ini.

"Dunia membutuhkan lebih dari sekadar resolusi politik dan kesepakatan ekonomi. Kita memerlukan jembatan hati dan pemahaman antar sesama manusia, apapun keyakinan dan latar belakangnya," ujar Menlu Sugiono dengan suara tegas namun menenangkan.

Ia menekankan bahwa Indonesia, dengan Pancasila sebagai dasar negara, adalah bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan perpecahan.

Pidato tersebut menjadi penanda penting dalam upaya diplomasi Indonesia untuk mempromosikan nilai-nilai universal.

Pesan Toleransi dan Persatuan Global

Inti dari pidato Menlu Sugiono adalah ajakan untuk merangkul toleransi dan persatuan global.

Ia menggambarkan bagaimana Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia namun juga rumah bagi beragam agama dan kepercayaan, telah berhasil menjaga harmoni sosial.

"Kami di Indonesia hidup berdampingan. Masjid, gereja, pura, dan vihara berdiri berdampingan, menjadi saksi bisu dari semangat gotong royong dan saling menghargai," jelasnya.

Menlu Sugiono menyerukan kepada komunitas internasional untuk menjadikan dialog antaragama sebagai prioritas utama.

Ia menegaskan bahwa ekstremisme dan intoleransi tidak mengenal batas negara atau agama, dan hanya bisa dilawan dengan semangat kebersamaan.

"Setiap keyakinan memiliki nilai universal yang sama: cinta kasih, kedamaian, dan keadilan. Mari kita temukan titik temu itu dan bangun dunia yang lebih baik," tambah Sugiono, disambut anggukan dari sejumlah kepala delegasi.

Pesan ini sangat relevan di tengah meningkatnya sentimen anti-agama dan konflik berbasis identitas di berbagai belahan dunia.

Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjadi pelopor dalam advokasi dialog antarperadaban.

Reaksi Positif Delegasi Dunia

Begitu Menlu Sugiono mengakhiri pidatonya, suasana di General Assembly Hall pecah dalam tepuk tangan yang menggema.

Banyak delegasi, termasuk beberapa duta besar dan perwakilan tetap, berdiri memberikan apresiasi.

Momen ini adalah pemandangan langka, terutama untuk pidato yang bukan disampaikan oleh seorang kepala negara atau pemerintahan.

"Pidato Menlu Sugiono adalah napas segar. Ini menunjukkan kepemimpinan moral yang sangat dibutuhkan PBB saat ini, di mana polarisasi semakin mengancam fondasi perdamaian," kata Duta Besar Anya Sharma, Perwakilan Tetap India untuk PBB, kepada wartawan usai sidang.

Duta Besar Sharma menambahkan bahwa pesan Indonesia adalah pengingat penting akan kekuatan persatuan.

Seorang pejabat PBB yang enggan disebut namanya menyebut bahwa tepuk tangan tersebut berlangsung selama hampir 90 detik, sebuah durasi yang signifikan.

Media-media internasional seperti Reuters, Associated Press, dan Al Jazeera turut menyoroti pidato ini, memuji keberanian dan visi Menlu Sugiono.

Reaksi positif ini menunjukkan bahwa pesan Indonesia telah menyentuh hati banyak pihak dan memberikan inspirasi baru bagi diplomasi global.

Peran Indonesia dalam Diplomasi Perdamaian

Pidato Menlu Sugiono di PBB bukan sekadar retorika semata.

Ini adalah kelanjutan dari tradisi panjang Indonesia dalam memainkan peran konstruktif dalam diplomasi perdamaian dan toleransi.

Indonesia secara konsisten menyuarakan pentingnya dialog dan kerja sama multilateral untuk menyelesaikan berbagai isu global.

Negara ini aktif dalam berbagai forum, mulai dari Gerakan Non-Blok hingga G20, selalu membawa semangat inklusivitas dan moderasi.

Langkah Menlu Sugiono di PBB ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam mempromosikan perdamaian dunia.

"Langkah Menlu Sugiono bukan sekadar retorika, melainkan cerminan komitmen nyata Indonesia dalam mempromosikan perdamaian dan toleransi di kancah global," jelas Dr. Budi Santoso, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia. "Ini adalah branding diplomasi yang sangat cerdas dan efektif."

Menurut Dr. Budi, pidato ini juga berhasil melawan narasi negatif yang sering kali mengaitkan agama dengan konflik.

Sebaliknya, Indonesia menunjukkan bahwa agama dapat menjadi sumber inspirasi untuk perdamaian dan kerukunan.

Ini adalah pesan yang sangat dibutuhkan oleh dunia yang seringkali terpecah belah.

Membangun Jembatan Multilateralisme yang Inklusif

Pidato Menlu Sugiono memiliki implikasi yang lebih luas bagi masa depan multilateralisme.

Ia mengusulkan visi PBB yang tidak hanya berfokus pada kepentingan negara, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan universal.

Ini adalah ajakan untuk membangun jembatan, bukan tembok, di antara berbagai peradaban dan keyakinan.

Sugiono berharap momentum ini dapat menginspirasi negara-negara lain untuk mengadopsi pendekatan serupa.

Dengan demikian, PBB dapat menjadi platform yang lebih relevan dan responsif terhadap tantangan kemanusiaan di abad ke-21.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana menerjemahkan sentimen positif ini menjadi tindakan dan kebijakan konkret.

Indonesia berkomitmen untuk terus mendorong agenda dialog antaragama dan antarperadaban dalam forum-forum internasional.

Langkah Menlu Sugiono ini adalah sebuah langkah signifikan menuju dunia yang lebih harmonis dan saling menghormati, di mana perbedaan dirayakan sebagai kekayaan bersama.

Rindiyani

Jurnalis profesional dengan fokus liputan berita aktual, investigasi mendalam, dan fakta terverifikasi di Indonesia.

Kembali ke Beranda