Bisnis 01 Nov 2026, 09:58 WIB • 3 Dilihat

Kripto: Binance Dibobol Peretas, Aset Rp114,3 Triliun Raib Dicuri dalam Serangan Terbesar Sejarah

Kripto: Binance Dibobol Peretas, Aset Rp114,3 Triliun Raib Dicuri dalam Serangan Terbesar Sejarah
Perbesar Foto

Foto: Dokumentasi / Liputan Khusus Redaksi

Binance, bursa aset kripto terbesar di dunia, mengonfirmasi insiden peretasan masif yang menyebabkan raibnya aset senilai sekitar Rp114,3 triliun pada akhir Oktober 2026. Peristiwa ini dicatat sebagai pencurian aset kripto terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah, melampaui peretasan Bybit senilai USD 1,5 miliar pada tahun 2025. Insiden ini memicu kekhawatiran global tentang keamanan di sektor aset digital yang sedang berkembang pesat.

Pihak Binance telah bergerak cepat untuk menanggapi serangan tersebut, menangguhkan layanan penarikan dan mengklaim akan menanggung seluruh kerugian yang dialami pengguna. Pada Minggu, 1 November 2026, Binance menargetkan untuk memulai kembali layanan penarikan secara bertahap, memberikan sedikit kelegaan di tengah gejolak pasar kripto.

Kronologi Serangan Siber Terbesar

Serangan siber terhadap Binance terungkap pada Kamis, 29 Oktober 2026, dengan sebagian besar perpindahan aset terjadi dalam rentang waktu sekitar 20 menit. Peretas diduga berhasil memindahkan aset senilai sekitar USD6,3 miliar, atau setara dengan Rp114,3 triliun, dari dompet panas (hot wallet) perusahaan yang terhubung ke internet.

Menurut laporan perusahaan investigasi blockchain TRM Labs, serangan tersebut menargetkan dompet Binance di 10 jaringan blockchain berbeda. Para analis menduga peretas mengeksploitasi celah pada infrastruktur penandatanganan transaksi atau sistem otorisasi yang memungkinkan pemindahan dana. Meskipun penyelidikan awal sempat mengarah pada laptop seorang insinyur DevOps yang diduga disusupi, investigasi lebih lanjut menemukan beberapa titik pembobolan tambahan, menunjukkan kompleksitas serangan.

Respons Cepat dan Upaya Pemulihan Binance

Segera setelah mendeteksi aktivitas mencurigakan, Binance mengambil tindakan drastis dengan menangguhkan semua aktivitas penyetoran dan penarikan untuk melakukan pemeriksaan keamanan menyeluruh. Langkah ini, meskipun menyebabkan kepanikan di kalangan investor, bertujuan untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

Binance dengan tegas menyatakan komitmennya untuk menanggung seluruh dampak finansial dari dana yang dicuri, memastikan bahwa pengguna tidak akan kehilangan aset mereka. Bursa kripto tersebut telah mengalokasikan lebih dari USD6,34 miliar dari dana internalnya, termasuk sebagian dari Secure Asset Fund for Users (SAFU) dan Futures Insurance Fund, untuk menutupi kerugian.

"Kami telah mengganti 90% dari aset yang dicuri, dan kami berkomitmen untuk menutupi 10% sisanya. Pengguna kami tidak akan menanggung dampak finansial dari insiden ini," ujar Co-CEO Binance, Richard Teng, pada Sabtu lalu.

Hingga saat ini, Binance melaporkan telah berhasil membekukan sekitar USD3 miliar aset yang terdampak bekerja sama dengan mitra industri dan penegak hukum. Penerbit stablecoin besar seperti Tether dan Circle turut berperan dalam membekukan sebagian besar aset yang dicuri.

Jejak Peretas dan Investigasi Internasional

Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat pada Sabtu, 31 Oktober 2026, secara resmi mengidentifikasi unit yang disponsori negara Korea Utara, dikenal sebagai TraderTraitor, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan ini. Kelompok ini diyakini merupakan bagian dari Lazarus Group, yang terkenal dengan serangkaian serangan siber terhadap entitas keuangan global.

Pihak berwenang AS dan Korea Selatan, serta para ahli keamanan siber, telah lama menuding Korea Utara menggunakan unit siber untuk kegiatan spionase dan pencurian dana. FBI mengamati bahwa pelaku TraderTraitor telah mengubah aset curian menjadi cryptocurrency Ethereum, dan diperkirakan akan ada upaya pencucian uang lebih lanjut melalui teknologi terkait.

Richard Teng juga mengungkapkan bahwa penyelidikan awal menunjukkan insiden ini mungkin melibatkan laptop yang disusupi, namun investigasi berikutnya menemukan titik pembobolan tambahan. Meskipun demikian, Binance menegaskan belum ada bukti bahwa kunci pribadi (private key) dompet kripto perusahaan telah bocor.

Pemulihan Layanan dan Jaminan Kepercayaan Pengguna

Setelah penghentian sementara yang berlangsung beberapa hari, Binance menargetkan untuk memulai kembali layanan penarikan bagi penggunanya pada Minggu, 1 November 2026. Proses ini akan dilakukan secara bertahap, token demi token, untuk memastikan stabilitas dan keamanan sistem.

Sebagai bagian dari upaya transparansi dan untuk membangun kembali kepercayaan pengguna, Binance juga berencana untuk menerbitkan snapshot Proof of Reserves (PoR) terbaru pada 2 November 2026. Ini akan memungkinkan pengguna untuk memverifikasi bahwa aset mereka didukung dengan rasio minimal 1:1.

"Prioritas berikutnya adalah melanjutkan layanan penarikan pengguna, dan kami tetap pada jalur untuk membukanya kembali pada 1 November, sesuai jadwal yang diumumkan sebelumnya," demikian pernyataan resmi Binance.

Langkah-langkah pencegahan telah diperketat, termasuk isolasi infrastruktur yang terdampak, pencabutan otorisasi berisiko, dan penerapan pengamanan tambahan untuk mencegah transaksi ilegal di masa depan. Perusahaan juga berjanji untuk membagikan analisis teknis yang "terperinci" setelah penyelidikan selesai.

Dampak Pasar Kripto dan Prospek ke Depan

Berita peretasan ini segera memicu penurunan harga mata uang kripto utama. Bitcoin anjlok hingga 5%, sementara Ethereum dan BNB juga mengalami penurunan signifikan sesaat setelah kabar peretasan tersiar. Insiden ini sekali lagi menyoroti kerentanan pasar kripto terhadap serangan siber berskala besar dan pentingnya langkah-langkah keamanan yang kuat.

Meskipun Binance telah berjanji untuk menanggung semua kerugian, insiden ini menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan keamanan bursa kripto dan perlunya inovasi dalam protokol perlindungan aset digital. Pemulihan penuh kepercayaan pengguna akan menjadi tantangan utama bagi Binance di hari-hari mendatang, meskipun komitmen perusahaan untuk menutupi kerugian memberikan sinyal positif.

Para regulator keuangan di seluruh dunia kemungkinan akan mengamati dengan cermat bagaimana Binance menangani krisis ini dan dapat mendorong aturan yang lebih ketat untuk melindungi investor di pasar aset digital. Dunia kripto kini menanti pembukaan kembali penarikan dan publikasi Proof of Reserves Binance sebagai ujian krusial bagi stabilitas dan kredibilitas bursa terbesar ini.

Jurnalis redaksi dfx.co.id dengan spesialisasi liputan ekonomi, perbankan digital, dan teknologi.

Tag Topik Terkait:
Kembali ke Beranda