Krisis Energi di Filipina: Kota Lapu-Lapu Dihantam Pemadaman, Tagihan Listrik Justru Melonjak
Dapatkan Berita Terkini
Ikuti kami di Google News untuk update tercepat
Foto: Foto: Ilustrasi pemadaman listrik. (REUTERS/TINGSHU WANG)
Warga Kota Lapu-Lapu di Filipina tengah menghadapi krisis listrik yang parah.
Pemadaman bergilir terus-menerus menghantui aktivitas sehari-hari mereka.
Situasi ini memicu Dewan Kota Lapu-Lapu untuk menuntut tindakan nyata dari pihak berwenang.
Mereka mendesak solusi konkret atas defisit pasokan energi.
Otoritas Kelistrikan Dipanggil untuk Klarifikasi
Perwakilan dari tiga entitas kelistrikan utama Filipina diundang dalam sesi tanya jawab khusus.
Mereka adalah National Grid Corp of the Philippines (NGCP), Komisi Pengaturan Energi (ERC), dan Mactan Electric Co.
(MECO).
Wakil Wali Kota Lapu-Lapu, Celedonio Sitoy, memimpin pertemuan penting tersebut.
Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap ketidakpastian solusi.
Pasokan Minim, Pembangkit Rusak Parah
NGCP tidak dapat memberikan kepastian kapan pemadaman bergilir akan berakhir.
Kapasitas pembangkitan listrik secara keseluruhan dinilai sangat tidak memadai.
Beberapa pembangkit listrik dilaporkan rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Ini memperparah kondisi pasokan daya yang sudah kritis.
Sitoy memperkirakan krisis ini bisa berlanjut lebih dari dua bulan.
Penambahan kapasitas pembangkitan besar-besaran sangat dibutuhkan untuk menutupi kekurangan.
"Masalahnya benar-benar karena kurangnya daya pembangkitan," ujar Sitoy.
"Kami membutuhkan daya pembangkitan dalam jumlah besar.".
Ancaman Siaga Merah dan Kuning
Kondisi darurat listrik ini terjadi di tengah serangkaian peringatan siaga kuning dan merah.
Jaringan kelistrikan Visayas berulang kali mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir.
Penurunan kapasitas pembangkit dan terbatasnya impor listrik dari Mindanao menjadi penyebab utama.
Ini menciptakan ketidakstabilan pasokan yang signifikan.
Sebagai contoh, pada 23 September, kota ini berada dalam status siaga kuning dari pukul 17.00 hingga 20.00.
Kapasitas tersedia hanya 2.607 megawatt (MW) untuk beban puncak 2.418 MW, sementara 886,5 MW pembangkit tidak berfungsi.
Paradoks Tagihan Listrik yang Melonjak
Ironisnya, di tengah seringnya pemadaman, pelanggan justru merasakan kenaikan tarif listrik.
Konsumen di Lapu-Lapu dibebani biaya tambahan oleh operator, MECO.
MECO berdalih bahwa sebagai utilitas distribusi, mereka memiliki kontrol terbatas.
Biaya pembangkitan dan transmisi berada di luar kendali mereka.
Biaya tambahan tersebut mencakup pembayaran kepada pemasok daya dan tarif transmisi NGCP.
Ada juga biaya layanan tambahan untuk menjaga stabilitas jaringan.
Dewan Kota Bertindak Tegas
Untuk meredakan krisis, dewan kota telah mengesahkan beberapa resolusi penting.
Langkah ini menunjukkan keseriusan mereka dalam mengatasi masalah.
- Pada 15 Juli, Resolusi No. 17-2233-2026 disetujui. Ini mendesak Departemen Energi (DOE) dan ERC untuk mengaudit biaya langganan serta prosedur penagihan MECO.
- Kemudian, pada 7 September, Resolusi No. 17-2518-2026 disahkan. Resolusi ini mewajibkan MECO merilis jadwal pemadaman bergilir yang akurat dan terperinci.
- Puncaknya, pada 16 September, Resolusi No. 17-2524-2026 disetujui. Resolusi ini memanggil paksa perwakilan NGCP, ERC, dan MECO untuk sesi tanya jawab di dewan kota.