Dunia 28 Sep 2026, 16:05 WIB • 2 Dilihat

Salam Lintas Agama Menlu Sugiono di PBB Tuai Pujian Global

Dapatkan Berita Terkini

Ikuti kami di Google News untuk update tercepat

Ikuti
Salam Lintas Agama Menlu Sugiono di PBB Tuai Pujian Global

Foto: Dokumentasi / Liputan Khusus Redaksi

NEW YORK – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, berhasil mencuri perhatian dunia saat membuka pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-79. Momen itu terjadi pada Selasa, 24 September 2024, pukul 10.30 waktu setempat di Markas Besar PBB, New York.

Sugiono mengawali sambutannya dengan salam lintas agama, sebuah gestur kuat yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari para delegasi yang hadir.

Gestur tersebut tidak hanya merefleksikan keberagaman Indonesia, tetapi juga mengirimkan pesan perdamaian dan toleransi yang mendalam ke seluruh penjuru dunia.

Sebanyak 193 perwakilan negara anggota PBB menyaksikan langsung momen bersejarah ini, memberikan apresiasi atas keberanian dan ketulusan Menlu Sugiono.

Momen ini menjadi sorotan utama dalam agenda Sidang Umum PBB yang membahas isu-isu krusial terkait perdamaian, keamanan, dan pembangunan berkelanjutan.

Momen Historis di Sidang Umum PBB

Sidang Umum PBB ke-79 kali ini memang dipenuhi dengan diskusi intensif mengenai tantangan global.

Namun, pidato Menlu Sugiono menghadirkan sebuah oase kedamaian dan harapan di tengah berbagai ketegangan.

Dengan mengenakan setelan jas gelap dan peci hitam khas Indonesia, Sugiono berdiri di podium kehormatan.

Ia memulai pidatonya bukan dengan protokol biasa, melainkan dengan untaian salam dari berbagai keyakinan.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan,” ujarnya dengan suara lantang dan penuh keyakinan.

Seketika, aula Sidang Umum yang megah itu dipenuhi gemuruh tepuk tangan.

Para delegasi dari berbagai latar belakang budaya dan agama berdiri, memberikan aplaus panjang yang menghangatkan suasana.

Ini adalah pengakuan atas esensi pluralisme yang diusung Indonesia dalam setiap langkah diplomasinya.

"Indonesia percaya bahwa perdamaian sejati hanya dapat terwujud jika kita mampu menerima dan menghargai perbedaan. Salam lintas agama ini adalah cerminan dari keyakinan kami," tegas Menlu Sugiono dalam pidatonya.

Pesan ini menggarisbawahi komitmen Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang tetap menjunjung tinggi toleransi beragama.

Gestur tersebut menjadi pengingat bagi seluruh dunia akan pentingnya dialog dan pengertian antarumat beragama.

Reaksi Delegasi dan Pengamat Internasional

Reaksi positif tidak hanya datang dari para delegasi yang hadir secara langsung, tetapi juga dari berbagai pengamat internasional.

Banyak yang memuji langkah Sugiono sebagai tindakan diplomatik yang cerdas dan menginspirasi.

Duta Besar Denmark untuk PBB, H.E. Ms. Anne M. Jacobsen, terlihat mengangguk-angguk setuju dan ikut bertepuk tangan dengan antusias.

Beberapa perwakilan dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga memberikan apresiasi serupa.

Dr. Eleanor Vance, seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Columbia, menyebut momen ini sebagai titik balik yang signifikan.

"Ini bukan sekadar formalitas. Salam lintas agama dari seorang Menlu dari negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, di panggung PBB, adalah pernyataan politik dan moral yang sangat kuat. Ini menunjukkan kematangan diplomasi Indonesia," kata Dr. Vance kepada detikNews melalui sambungan telepon dari New York.

Vance menambahkan bahwa tindakan ini akan meningkatkan citra Indonesia sebagai aktor perdamaian global yang kredibel.

Aksi ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi negara-negara lain untuk mengedepankan nilai-nilai toleransi dan kerukunan.

Media-media internasional seperti Reuters, Associated Press, dan Al Jazeera turut menyoroti peristiwa ini, menyebutnya sebagai "momen paling mengharukan" dalam sidang tersebut.

Peran Indonesia dalam Diplomasi Perdamaian Global

Indonesia telah lama dikenal aktif dalam mempromosikan perdamaian dan dialog antarperadaban.

Langkah Menlu Sugiono di Sidang Umum PBB ini bukanlah yang pertama, melainkan kelanjutan dari tradisi diplomasi yang kuat.

Sejak era Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, Indonesia selalu menekankan pentingnya kerja sama dan saling pengertian.

Prinsip politik luar negeri bebas aktif menjadi landasan bagi Indonesia untuk berkontribusi pada perdamaian dunia.

Dalam berbagai forum regional dan global, Indonesia secara konsisten menyuarakan pentingnya resolusi konflik secara damai.

Negara ini juga aktif dalam berbagai misi perdamaian PBB, menunjukkan komitmen konkretnya.

"Indonesia akan terus menjadi jembatan bagi berbagai kepentingan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan mempromosikan harmoni di tengah keberagaman global," ujar Duta Besar RI untuk PBB, Bapak Aris Suryo, dalam konferensi pers terpisah.

Aris Suryo menegaskan bahwa salam lintas agama yang disampaikan Menlu Sugiono adalah refleksi nyata dari Pancasila, ideologi dasar negara Indonesia.

Pancasila mengajarkan persatuan dalam keberagaman dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Implikasi bagi Hubungan Internasional

Tindakan Menlu Sugiono ini berpotensi memiliki implikasi jangka panjang bagi hubungan internasional.

Pertama, ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin moral di kancah global, khususnya dalam isu toleransi dan pluralisme.

Kedua, hal ini dapat mendorong negara-negara lain untuk lebih berani mengadopsi pendekatan inklusif dalam diplomasi mereka.

Ketiga, momen ini menjadi pengingat bahwa meskipun ada perbedaan politik dan ekonomi, nilai-nilai kemanusiaan universal tetap menjadi perekat.

Di tengah polarisasi global yang semakin tajam, pesan dari Indonesia ini sangat relevan dan dibutuhkan.

Ini menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu harus kaku dan formal, tetapi juga bisa menyentuh hati nurani.

Menlu Sugiono telah membuktikan bahwa sebuah gestur sederhana namun tulus dapat memiliki dampak luar biasa.

Ia berhasil mengubah atmosfer Sidang Umum PBB menjadi lebih hangat dan penuh harapan.

Aplaus meriah dari para delegasi PBB adalah bukti nyata bahwa pesan perdamaian dan toleransi Indonesia diterima dengan tangan terbuka oleh dunia.

Momen ini akan tercatat dalam sejarah diplomasi sebagai salah satu pidato paling berkesan.

Indonesia kembali menorehkan tinta emas dalam upaya mewujudkan dunia yang lebih damai dan harmonis bagi semua.

Subarjo

Jurnalis profesional dengan fokus liputan berita aktual, investigasi mendalam, dan fakta terverifikasi di Indonesia.

Kembali ke Beranda